Antara Nggragas, Plintat-Plintut & Bersyukur
Satu cerita lagi. Pegawai resign karena uang. Saya jadi ikut-ikutan berpikir seperti mbak iverlita. Apakah uang yang saya terima di kantor ini sudah cukup? Sebentar, sepertinya kurang etis kalau saya menggunakan istilah “uang”. OK, saya ganti dengan GAJI. Kembali ke pertanyaan semula. Apakah gaji yang saya terima sudah cukup? Ya. Sebagai buruh, saya merasa kalau gaji yang saya terima saat ini sudah cukup.
Tetapi menjadi tidak cukup ketika dihadapkan pada tawaran yang menarik dengan gaji yang lebih menarik.
Nggragas. Plintat-Plintut. Bersyukur.
Yang pertama artinya rakus. Saya tidak rakus. Kalaupun saya pindah karena faktor gaji, saya tidak menganggap diri saya rakus. Saya hanya mencari kehidupan yang lebih baik untuk saya dan keluarga saya. Ini pembelaan saya untuk menghaluskan kerakusan saya. Memangnya di tempat yang sekarang ini masih belum baik? Masih merasa kurang? Sudah, tapi skill saya tidak bisa berkembang. Nah, ini alasan halus saya yang kedua yang sekali lagi untuk membenarkan kerakusan saya.
Ini kasus pribadi saya. Saya tidak bermaksud menyinggung anda dengan menyebut anda orang nggragas. Apalagi kalau kebetulan anda pindah kerja dengan kedua alasan di atas. Tidak sama sekali. Jangan marah lho ya? Janji ya
Istilah kedua artinya plin-plan. Itu istilah Yane istri saya ketika saya merasa gelisah dengan tawaran pekerjaan di tempat lain dengan kemungkinan uang gaji yang menarik pula. Kalau tidak mau gelisah, coba berpikir positif dengan keadaan saat ini. Kembali ke komitmen awal kita dulu mas. Kita masih di tengah perjalanan. Belum selesai dan belum cukup fakta untuk mengambil kesimpulan akhir. Coba hitung berkat dari Tuhan buat keluarga kita selama ini. Gedubrak! Saya baru sadar. Saya sudah mulai kehilangan fokus dan jarang bersyukur. Jauhi undangan wawancara godaan kalau itu membuat mas jadi plintat-plintut dengan komitmen yang pernah kita buat. Ck..ck..ck.. Istriku, kamu memang penolong yang sepadan. I love you
Fokus, bersyukur dan menghitung berkat Tuhan. Buat saya, itu cara yang ampuh untuk memupus kegelisahan dan kekecewaan. Will you stay with us, tanya bos saya yang baru. Yes Bos, I will stay!
Selamat Paskah!
Update:
Atau ada yang merasa takut pindah karena istri, ibu, bapak seperti mereka?





Sugeng Paskah mas
Saya juga punya masalah yang
samamirip je mas. Udah lama, danwawancaragodaan datang silih berganti.Yang saya pikir pas buat saya, ndak kesampaian, meski direwangi nunjang-nunjang.
Namun yang saya pikir ndak pas malah beberapa kali tembus.
Sampai sekarang masih glidik di tempat yang sama yang Dia sediakan dulu.
Dan benar, satu hal jelas terjadi, kurang bersyukur seperti yang njenengan katakan tadi.
Dan memang benar bahwa rencana Tuhan itu seringkali ndak sama dengan pikiran manusia, sekarang saya ngimani rencana Dia mesti yang paling baik.
-Berkah Dalem-
Ardians:
Betul mas Sigid. Paling enak itu jadi orang yang bisa bersyukur. Hal-hal yang ndak enak pasti jadi
sedikitenak. Dan satu lagi mas, dengan bersyukur kita bisa jadi orang yang lebih rendah hati, bukan hanya di hadapan Tuhan tapi juga manusiasigid
April 2, 2008 at 3:05 pm
sepertinya dengan bersyukur hidup saya lebih enjoy
dari pada ‘ngresulo’
dapet banyak tapi ga bersyukur ya tetep aja kurang
Ardians:
Setuju mas. Selain itu, dengan bersyukur, kita bisa melihat kebaikan dan keindahan di sekeliling kita dengan lebih jelas. Mungkin seharusnya ada mata pelajaran Bersyukur di sekolah-sekolah kita kali ya
baliazura
April 2, 2008 at 10:18 pm
di tengah situasi menyempitnya lapangan kerja seperti saat ini *halah* agaknya bersyukur dengan apa yang telah kita terima saat ini lebih membawa berkah daripada harus membanding-bandingkan gaji di tempat lain, mas ardians.
ardians:
Setuju pak. Atau bapak mau membuka pelatihan “Bersyukur”. Dan ngomong-ngomong, saya belum menemukan buku “Bersyukur for Dummies” lho pak
Sawali Tuhusetya
April 4, 2008 at 3:20 pm
Well, udh bikin komitmen nih sepertinya.. Jadi gak perlu di kirimkan berita-berita lucu lagi dong?
ardians:
“Berita-berita lucu” tetep perlu om. Buat mawas diri dan mengetahui demand di luar sana
e8ayz
April 7, 2008 at 9:48 am
Pindah kerja sebetulnya hal biasa, yang harus disikapi sebetulnya adalah apa tujuan kita bekerja? Sekedar mencari gaji tinggi, atau gaji cukup tapi bisa mengembangkan diri sampai ke puncak.
Dengan berbagai pertimbangan, tak ada salahnya pindah, yang harus diperhitungkan adalah jangan keluar sebelum mendapat kepastian ada tempat baru yang lebih baik dan ada kepastian kita diterima.
ardians:
Pengennya sih ndak kerja tapi dapat gaji tinggi bu (*huh, dasar pemalas, enyah dari sini!!!*)
Saya pasti inget sama pesen bu Enny. Terima kasih ya bu..
edratna
April 9, 2008 at 2:58 pm
Wadoh,ada namaku disebut.. :”>
yah,dirimu taulah kenapa diriku harus pindah. Not only about money..tapi..kita sama-sama tau,ga perlu disebut disinilah..
Bersyukur mas,krn diluar sini belum tentu sebaik disana..dan saya bersyukur,karena pilihan saya untuk keluar dan memilih yg sekarang tenyata atau memang belum ada kesalahan…
Gbu!
ardians:
Sukses buat anda mbak. Semoga tetap ingat bersyukur ya mbak.
verlita
April 12, 2008 at 3:58 pm
bersyukur pa..!!selama ini insting ma belum pernah salah melihat prospek kerja pa di tmpt kerja yang sudah2. semua pasti lebih nikmat kalau dilewati dengan kembali lagi bersyukur… ya kan?! GAJI berapapun toh si Arya tetep manggil pa dengan sebutan: BABAH….
ardians:
*manthuk-manthuk*
istrimu !!!
April 17, 2008 at 8:20 pm
sampeyan beruntung punya istri seperti itu… alhmadulillah.
Karir
July 8, 2008 at 6:25 pm