Diamp*t
Diamput. Itu umpatan yang keluar dari mulut saya pagi ini. Padahal saya sudah janji sama istri saya untuk mengurangi hobi misuh saya ini. Masalahnya sepele. Saya hampir nabrak mas-mas pegawai BUMN yang lari-lari buat ngejar absen. Gak masalah kampas rem motor saya berkurang dengan sia-sia. Tapi kuagetnya itu lho den bagus…
Aniwei, kenapa sih musti lari-lari kalo mau absen? Takut telat ya? Emang kalo telat sedikit kenapa sih? Kenapa sih ga datang pagian biar ndak telat, supaya ndak bikin saya jantungan? Di lain kesempatan, saya malah melihat mereka memarkir motor sembarangan yang sekali lagi untuk mengejar status “tepat waktu”.
Dan yang lebih menjengkelkan adalah setelah mereka lari-lari pagi buat ngejar absen, sesaat kemudian saya melihat para pegawai BUMN ini, kali ini sambil bergerombol dan ber-hahahihi, keluar kembali dari gedung kantor mereka untuk sarapan. Selesai sarapan, dengan masih bergerombol dan ber-hahahihi, mereka nongkrong di basement untuk sekedar merokok atau baca headline koran di lapak penjual koran.
Saya mencoba berhitung. Mereka masuk jam 7.30. Keluar sarapan dan masuk kembali ke kantor membutuhkan waktu paling cepat 1 jam. Saya jadi berpikir. Lalu apa gunanya mereka lari-lari, tergesa-gesa, grusa-grusu hanya untuk mendapatkan status “tepat waktu” dan mungkin juga status “karyawan teladan”? Kenapa tidak sarapan dulu dengan tenang dan masuk kantor jam 08.30? Lha kalo ditanya bos gimana, mas Ardi? Ya jawab aja dengan jujur. “Saya sarapan dulu bos. Daripada saya masuk tepat jam 7.30 tapi keluar lagi buat sarapan dan masuk lagi jam 8.30?”. Gitu aja kok repot.
Edan Kowe Prayitnooooo!!!!
Alkisah ada seorang engineer bernama Prayitno, ST yg bekerja di pabrik manufaktur elektronik Jepang. Orang ini baru saja lolos tes perusahaan BUMN yg mengelola gas alam dan mau resign. Berikut ini perdebatan dengan manajernya. Manajer = M, dan Prayitno = P
M = Edan kowe yo prayitno, lagi S-2 dah mau resign, dimana morality kamu?
P = Morality saya ikut berlari bersama morality perusahaan, yang nyuruh karyawannya lembur-lembur melebihi aturan pemerintah sampe sakit tapi tunjangan kesehatan ndak full
M = Sebenernya mau kamu apa? Di mana-mana kerja itu sama. Saya sudah menjalani 2 company sebelum ini
P = Karena kerja dimana2 itu sama, makanya saya gak ragu resign pak, wong sama aja kok, cuma rewardnya yg beda tho…. ya saya pilih yg rewardnya lebih
M = Kenapa kamu gak mencoba profesional disini aja, klo alasannya reward, kan nanti karir serta salary kamu juga bakal naik kalo kamu bertahan
P = Kenapa saya harus nunggu, kalo ada company yg nawarin itu skarang?
M = Tapi sayang sekali, saya pandang kamu yg paling berpotensi diantara yg lain
P = Bapak udah ngomong gitu ke semua engineer yg resign sebelum saya
M = Tidak, ini serius. Kamu memiliki potensi besar. Disini kmu bisa sukses! Daripada kmu memulai lagi dari bawah di company lain yg blum ketauan ntar disana kmu bakal sukses ato gak
P = Di sini juga sama aja saya blum tau bakal sukses apa gak, wong namanya masa depan kok. Sama2 gak ketauan. Tapi karena yg satu awalannya lebih baik, ya pilih yg lebih baik dong……
M = Maksud kamu lebih baik itu apa? Money? Uang itu bukan segala2nya!
P = Kalo emang begitu ngapain company costdown gaji saya? Apa artinya uang segitu untuk mempertahankan eksistensi engineer
M = Kita kan tidak hanya mengejar uang. Kalo orientasi kamu hanya uang, kamu hanya mengejar “live”. No difference with kambing. Bekerja hanya untuk bertahan hidup. Kamu itu engineer!!!! Harus berorientasi pada yg lebih mulia, bekerja untuk berkarya, untuk mengembangkan diri
P = Saya pengennya seperti itu. Makanya saya resign. Gimana saya mau lepas dari orientasi “live” klo tiap bulan saya harus pusing mikir bayaran kos, pulsa, makan, ngirim ortu, nabung buat merit. Naaaa skarang ada company yg nawarin itu. Salary yg membuat saya tenang dan tidak berpikir lagi tentang “live existency”. So, boleh dong saya ambil untuk menaikkan derajat pekerjaan saya?
M = Prayitno…. kalo kamu mengejar yg lebih baik, gak akan habis2…. Selalu ada yg lebih baik. Saya sudah mengalaminya di 2 company terdahulu
P = Emang gak bakal abis pak…. Karena itu, ngapain saya habisin disini? Mending saya terus2-an dapet yg lebih baik sampe berhenti karena cape. Lagian Bapak juga nyatanya bisa berhenti kan?
M = Inilah yg membuat bangsa kita gak maju2. Oportunis. Orang jepang maju karena loyal!
P = Loyalitas itu kata2 pembenaran buat ngegaji orang dibawah level pendidikannya pak. Betul jepang itu maju. Tapi lihatlah, terjadi ketimpangan karir antara lelaki dan wanita. Karena lelakinya gila kerja semua, mereka jarang menemui anaknya. Akibatnya istri2 mereka harus mengimbanginya, ngalah keluar dari kerja buat nambal waktu bapak yang hilang untuk anak2nya karena bokapnya lebih cinta kerja daripada mereka. Tanya deh cewek jepang. Lelaki jepang tu paling gak romantis. Cewek bawa tas berat aja dicuekin
M = Tapi dimana responsibility kamu?
P = Responsibility itu apa pak? Perasaan saya, dulu saya pernah punya. Pas awal-awal masuk disini. Tapi kata2 itulah yg dijadikan pembenaran untuk menindas saya. Atas nama responsibility, saya mengorbankan kesehatan untuk ketepatan schedule launching produk yg jelas2 merupakan percepatan uang masuk ke kantong pemilik saham. Betul, manusia harus punya responsibility. Apa responsibility paling utama? Keluarga, anak dan istri adalah amanah dari yang diatas.
M = Kamu kurang bersyukur. Masih banyak orang yg susah dapet kerjaan!
P = Saya dah diterima pak. Itu rejeki dari yang Diatas. Kalo gak saya ambil, itu yg namanya gak bersyukur. Yang Diatas itu tau kebutuhan kta. Makanya Dia memberi saya kerjaan baru. Mungkin karena kebutuhan saya meningkat. Selain itu, yang Diatas juga memberi pekerjaan pada satu orang pengangguran yg akan menggantikan posisi saya disini setelah resign
M = EDAN KOWE PRAYITNOOOOO!!!! Kalo gitu aku ikut kamu resign…
P = Nggak bisa pak… Kowe wis tuwo! Cuma bisa ngelamar ke tempat yang sesuai background bapak…
Catatan:
1. Dikutip dari sebuah milis
2. Credit untuk pengarang aslinya. Mungkin ada yang tahu?
3. Tidak menerima komentar seperti “Ini pengalaman pribadi ya?” atau “sampeyan yang manajer-nya atau prayitno-nya?” atau sejenisnya
Nostalgia
Mengenang masa lalu bisa membuat saya tersenyum, mangkel, misuh atau sekedar mules. Bisa karena kenaifan, kesombongan, kebodohan atau kesengajaan yang saya lakukan di waktu lampau.
Beberapa teman menggunakan kejadian di masa lalu sebagai media untuk berinterospeksi yang ujung-ujungnya berakhir pada rasa pilu haru dan ucapan syukur yang tulus pada sang Pencipta atau malah sebagai penyemangat untuk menjadi atheis yang baru. Saya bersyukur karena melalui nostalgia, saya bisa memahami arti kalimat bijak Gusti mboten sare (baca: Tuhan tidak tidur) dengan lebih baik hingga saat ini.
Foto di atas adalah salah foto favorit saya di masa lalu. Foto di atas diambil sesaat setelah kami sukses mejalani prosesi puncak sebuah tradisi yang tidak lebih untuk memuaskan hasrat narsisme dari senior-senior kami di kampus. Tapi justru tradisi inilah yang menjadi salah satu penguat kebersamaan kami di kemudian hari.
Kembali ke foto.
Dari semua teman-teman saya yang di atas, mana yang menurut anda paling menarik? *mual-mual*
Ato yang menurut anda paling lucu? *muntah*
Ato yang paling imut? *semaput*
Ada yang bisa menemukan keganjilan dari dua foto di atas?
Ngomong-ngomong, apa arti nostalgia bagi anda?
Dan berapa penambahan ukuran lingkar perut anda saat ini dibandingkan pada saat jaman mahasiswa dulu?
Catatan:
Posting ini didedikasikan sebagai ucapan turut berbahagia kepada seorang teman. Sori, ndak bisa nyalami langsung ya Boy!
Keep your friends close, and your enemies closer
Ternyata, secara rutin tim developer Internet Explorer mengirimkan kue untuk menyambut kedatangan produk baru dari kompetitornya, Mozilla Firefox.
Dulu, pada saat Firefox 2 dirilis, ini bentuk kuenya.
Sedangkan untuk Firefox 3, ini bentuk kuenya.
Bagi anda yang suka sering menerima bingkisan, kue, parcel, hadiah dan sejenisnya, anda perlu waspada. Semakin banyak anda menerima sesuatu, mungkin “musuh” anda semakin banyak. *paranoid mode on*
Gambar dikutip dari:
http://www.cyberciti.biz/tips/from-redmond-with-love-ie-team-sends-a-cake.html
http://arstechnica.com/journals/linux.ars/2008/06/17/the-cake-is-a-lie-ie-team-bakes-a-treat-for-mozilla
Suatu hari di kehidupan seorang Info Security Officer
“Saya pusing dengan password yang panjang minimalnya 8 karakter, ada huruf besar, ada huruf kecil, ada angka dan ada simbol. Apalagi ini harus diganti setiap 1 bulan sekali. Saya minta aturan konyol ini dihilangkan saja!”
Anda pernah mendapat keluhan seperti ini? Kalau kebetulan anda berada di level operasional maupun level pembuat kebijakan yang berkaitan dengan security policy, ini termasuk dalam kategori masalah klasik. Dan ini hanya sebagian kecil dari masalah rutin yang sering dihadapi oleh Information Security Officer.
Bosan? Jengkel? Marah? Tunggu. Tergantung dari siapa yang meminta. Kalo itu user biasa yang tidak punya hak memecat anda atau bisa menurunkan anda dari jabatan anda yang basah menantang atau bisa memotong bonus tahunan, ndak papa lah kalo sedikit dicuekin. Kalo masih bandel, ya di briefing mengenai resiko dari tindakan yang diminta, tentang pentingnya kepatuhan terhadap regulasi, kemungkinan tercurinya data dan alasan lain yang dirasa menakutkan. Tapi masalahnya tidak akan selesai di situ kalo yang meminta adalah orang yang berkuasa atas hidup anda di perusahaan.
Sebetulnya anda masih bisa menerapkan pendekatan yang sama dengan user biasa di atas. Strict to the rules. Tapi di beberapa perusahaan yang masih kental dengan kultur kolonialismenya, saya ndak nanggung kalo bulan depan anda sudah dimutasi ke Papua.
Lalu apa yang harus saya perbuat? Berikut alternatif-alternatif yang bisa anda pilih
Alternatif 1:
Resign dan cari pekerjaan lain.
Alternatif 2:
Lakukan perintah dari oknum pihak manajemen tersebut. Jangan bertanya atapun membantah. (*Ini kalo anda belum siap dimutasi ke Papua*). Ingat aturan OSPEK jaman dulu. Senior tidak pernah salah.
Alternatif 3:
Dokumentasikan secara tertulis resiko dari permintaan manajemen anda tersebut dan informasikan kepadanya. Informasikan juga bahwa anda akan mengakomodasi permintaan mereka jika dan hanya jika anda mendapatkan tandatangan dari Information Security Department (itu juga kalo ada
). Oya, tambahkan juga pernyataan kalo anda tidak akan bertanggungjawab jika dikemudian hari muncul security breach akibat permintaan mereka ini.
Jika manajemen anda masih memaksa dan menutup diri terhadap argumen anda, lihat alternatif pertama. Ada banyak perusahaan di luar sana yang memiliki manajemen yang lebih smart dan bijaksana.
Jika kebetulan manajemen anda termasuk golongan smart dan bijaksana, informasi dari anda seharusnya akan membuat mereka mempertimbangkan permintaannya demi kebaikan perusahaan. Dan jangan kaget kalo bonus anda tahun ini berlipat-lipat karena telah secara proaktif turut mengamankan aset/informasi perusahaan *halah*
Anda punya alternatif lain?









